Meskipun telah tiada, namun kecintaan Rasul kepada kita tiada pernah pudar. Seringkali kita tak pandai membalas cinta. Bahkan seringkali kita tak tersadarkan. Padahal di sana, di padang mahsyar, ketika segenap kita disibukkan oleh urusan masing-masing, ketika matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala, cinta itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga nan indah menyegarkan. Yang semua orang pasti berharap dapat mereguk airnya di tengah berbagai kesulitan yang mendera. Di sana, di telaga itu, Rasul menanti.
Sesungguhnya aku menunggu (kedatangan) kamu sekalian di telaga. Barangsiapa melewati, dia pasti minum. Barangsiapa minum, maka dia tidak akan dahaga selamanya." (HR al Bukhari)
Telaga al kautsar adalah kisah tentang kesinambungan cinta Rasulullah. Cinta itu terus mengalir. Hamparannya tidak terbatas sekat dunia atau pun akhirat. Bahkan menjelang Rasulullah wafat, kedalamannya tetap meliputi. Menjelang wafat beliau, ketika peluh sudah membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya, Rasulullah bertanya pada Jibril, "Apa hakku nanti di hadapan ALlah?"
Jibril menjawab, "Pintu-pintu langit telah terbuka. Para Malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu." Namun perkataan itu tidaklah menenangkan Rasulullah. Manusia mulia itu bertanya kembali, "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
Itulah wujud cintanya. Cinta itu tak pernah pudar. Sewaktu Izrail melakukan tugasnya dengan lembut, nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Beliau kemudian berujar perlahan. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini. Ya Allah, dahsyat nian naut ini. Timpakan semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Saat itu, sewaktu Ali ra mendekati Rasulullah, terdengar ucapan lirih. "Ummatii, ummatii, ummatii. Umatku, umatku, umatku." Menjelang wafatnya Rasulullah tetap memanggil. Bukan kepada istrinya Aisyah, atau kepada putrinya Fatimah. Tetapi kepada kita, umatnya.
Meskipun telah tiada, namun kecintaan sang Nabi kepada kita umatnya tiada pernah henti. Walau terkadang yang dicinta tak pandai membalas cinta, juga tak sadar kalau selalu didoakan keselamatan dan ditangisi kesulitan yang menimpanya. Kecintaannya terbawa mati. Bahkan tidak berujung. Cinta itu selalu hadir kapan dan bagaimanapun situasinya. Tak kenal suka maupun duka. Tak terbatas dunia dan akhirat. Tak terbedakan di saat aman atau sedang huru-hara. Di saat seorang ibu dan seorang anak tidak saling mengenal, sekalipun.
Di sana, di padang mahsyar, ketika segenap kita disibukkan oleh urusan kita masing-masing. Ketika kita digiring secara kasar menuju pengadilan Tuhan Yang Mahabijaksana. Ketika kita dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki. Ketika matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala. Ketika rasa haus mencekik tenggorokan. Ketika ini dan itu terjad, cinta itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga yang indah nan menyegarkan. Yang semua orang pasti berharap dapat meneguk airmya di tengah berbagai kesulitan yang mendera.
Telaga itu benar-benar ada, luas dan indah. Dan sungguh sangat indah. Ia hadir dengan nama yang indah pula, Al Kautsar; nikmat yang banyak. Demikian Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi saw menuturkan.
Di telaga itu Rasulullah saw menanti umatnya, dengan luapan cinta dan kasih sayangnya, menyambut mereka yang kehausan. Beliau sangat mengenali umatnya, karena memang mereka memiliki tanda-tanda yang tidak dipunyai oleh siapapun oleh umat lain. "Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan dan betis yang berkilauan karena bekas air wudlu," tegas beliau dalam sabdanya.
Memang, telaga dan semua kenikmatannya itu bukan akhir dari segalanya. Perjalanan kita menuju persinggahan terakhir; surga atau neraka, masih sangat panjang. Setelahnya kita akan menghadapi perhitungan amal yang tidak kalah menegangkan. Lalu amal-amal itu akan ditimbang untuk diberikan balasan. Selanjutnya, kita akan menuju ke shirat dengan terlebih dahulu melewati tujuh jembatan, dimana di masing-masing jembatan itu akan ditanyakan keimanan, shalat, puasa Ramadhan, zakat, haji dan umrah, mandi wajib dan wudlu, dan kezhaliman-kezhaliman yang pernah kita lakukan kepada sesama manusia. Kata sebagian ulama, kita tidak akan melangkah ke jembatan berikutnya jika pada jembatan sebelumnya kita gagal.
Perjalanan setelah telaga sungguh masih sangat panjang dan berat. Begitupun, bisa mampir dan minum di telaga Rasul itu sungguh sebuah karunia besar. Perjalanan memang belum lagi selesai. Tapi mendapatkan minum dari telaga yang sesudahnya tidak lagi ada haus sungguh sangat didambakan. Itu akan sangat meringankan, di hari ketika segalanya berubah begitu mengerikan, panas, haus dan mencekam.
Hari ini, entah di ujung pelarian mana kita menuju. Tapak demi tapak adalah keniscayaan menuju kematian. Di telaga itu, kelak, Rasul setia menanti. Dengan cinta dan kasih sayangnya. Tak ada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya, kita bisa bertemu Rasul di telaga itu, lalu minum dengan sepuas hati.